Suara Perempuan dalam Motif Batik Lasem

Type Book:

Softcover

Published :

June 23, 2026

  • Dr. Bresca Merina, S.IP., M.Ec.Dev.
  • Dr. Muhaimin, S.Pd.I., S.A.P., M.M
  • Dr. Indriana Kristiawati, MM
  • Dr. Dra. Bening Hadilinatih, M.Si

“Dr. Bresca Merina, S.IP., M.Ec.Dev., lahir di Pekanbaru pada tanggal 16 Juni 1985, adalah seorang akademisi dan peneliti yang berfokus pada isu-isu sosial, ekonomi pembangunan, dan ilmu politik. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Ilmu Pemerintahan dari STPMD “APMD” Yogyakarta pada tahun 2007.”

Publisher:

PT Beryl Cendekia Media

Publication Date:

06/23/2026

Language:

Indonesia

ISBN:

Number Of Pages:

250

Format:

B5

Suara Perempuan dalam Motif Batik Lasem menghadirkan Batik Lasem bukan sekadar kain tradisional yang indah, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita tentang perempuan, keluarga, kerja, dan ingatan budaya. Di balik warna-warna khas dan motif-motif yang dikenal luas, terdapat tangan-tangan perempuan yang dengan tekun menjaga keberlangsungan tradisi dari generasi ke generasi. Melalui kerja yang sering berlangsung sunyi di ruang-ruang domestik, mereka bukan hanya membuat batik, tetapi juga merawat pengetahuan, nilai budaya, dan identitas komunitas pesisir Lasem.

Berangkat dari pembacaan atas observasi dan wawancara dengan pembatik, penjual, pegiat budaya, hingga pengamat sejarah, buku ini mempertemukan pengalaman lapangan dengan kajian akademik untuk menghadirkan potret Batik Lasem yang lebih utuh dan manusiawi. Pembaca diajak memahami bahwa motif batik bukan hanya hiasan visual, tetapi arsip sosial yang menyimpan jejak memori keluarga, perjumpaan budaya Jawa-Tionghoa, dinamika ekonomi rumah tangga, hingga perubahan sosial yang terus berlangsung di Lasem.

Melalui empat belas bab, buku ini membahas berbagai persoalan penting: posisi perempuan dalam industri batik, kerja sunyi dan beban ganda pembatik, krisis regenerasi, hilangnya pengetahuan makna motif, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan pelestarian di tengah logika pasar dan perkembangan wisata budaya. Semua pembahasan bergerak dari pengalaman konkret para pelaku batik menuju refleksi yang lebih luas tentang identitas budaya, relasi gender, keadilan sosial, dan masa depan warisan budaya Indonesia.
Buku ini juga menegaskan bahwa pelestarian Batik Lasem tidak dapat dilakukan hanya dengan menjaga motif atau mempromosikan citra kota. Warisan budaya hanya dapat terus hidup jika para pelakunya memperoleh ruang, pengakuan, dan kesejahteraan yang layak. Karena itu, mendengar suara perempuan pembatik menjadi langkah penting untuk membayangkan masa depan Batik Lasem yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat.